Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia 

Edisi 1

Edisi 2

Edisi 3

Edisi 4

Edisi 5

Edisi 6

Edisi 7

Edisi 8

Edisi 9

Edisi 10

Edisi 11

Edisi 12

Edisi 13

Edisi 14

Edisi 15

Edisi 16

Edisi 17

Edisi 18

Edisi 19

Edisi 20

Edisi 21

Edisi 22

Edisi 23

Edisi 24

  Editorial

Kontras

Lukisan monalisa tidak akan berharga mahal dan terkenal jika hanya terdiri dari satu warna, tanpa gradasi. Patung Liberty di Amerika tidak akan menjadi simbol kemegahan jika ia hanya satu dimensi, tanpa lekukan dan bentuk tiga dimensi. Datar, sedatar kertas. Qiraah Muammar tidak akan menjadi indah jika liukan dan naik-turun nadanya dihilangkan. Lurus, selurus peluit kereta api.

Ketika para malaikat memprotes keinginan Allah untuk menciptakan Adam, tentu saja Allah mengabaikan protes tersebut, karena penciptaan Adam dengan segala konsekwensinya adalah keniscayaan. Perwujudan Qabil dan Habil adalah sunnatullah. Hitam-biru-putih, siang-sore-malam, pelangi, adalah kemestian.

Perbedaan, kontras, gradasi, penafsiran yang beragam, akan melahirkan dinamika kehidupan. Kita, manusia, sudah sepatutnya merawat dinamika itu agar tetap indah, damai. Biarkanlah kehidupan itu selalu berwarna, karena keseragaman adalah mustahil, melawan sunnatullah. Jika Allah menghendaki, ia akan menghancurkan gereja dan sinagog. Tapi Allah tidak menghendakinya. Allah menghendaki dinamika itu, keindahan kontras, pesona perbedaan.

Anick H. Tohari

 

Kajian


Indonesia dan Keragaman Budaya; Sebuah Pertanggungjawaban Teologis

Kita tidak mungkin dapat membayangkan Indonesia tanpa pluralitas. Sebab keberagamaan dalam aspek suku, etnis, budaya, dan agama merupakan elemen dasar yang telah membentuk syu`ubiyah, nasionalisme yang mengantarkan penduduk daerah-daerah sekitar khatulistiwa ini meraih kemerdekaannya. Para pendiri bangsa adalah anak-anak terbaik pluralitas.

Dalam wilayah yang lebih luas, keragaman adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan terjadi karena adanya keanekaan ciptaan dan makhluk Tuhan. Hidup adalah siang dan malam, bumi dan langit, laut dan daratan, Barat dan Timur, serta tumbuh-tumbuhan dan binatang. Demikian pula dinamika dan perkembangan terus terjadi karena keanekaan alam diolah dan dikembangkan secara kreatif dan arif oleh manusia yang juga beragam dari sisi jenis kelamin, suku, dan etnis sehingga menghasilkan kebudayaan yang berbeda-beda yang saling melengkapi satu sama lain.

***

Dalam perspektif nilai dan ajaran Islam, keberagaman adalah karakter kehidupan dan tabiat atau fitrah manusia yang paling dasar. Allah dalam surat al-Rum (30): 22 menjelaskan, adanya langit dan bumi, bahasa dan warna (ras) manusia yang berbeda-beda merupakan tanda-tanda kekuasaanNya. Langit memiliki karakternya sendiri sebagaimana pula bumi memiliki bentuk dan sifat-sifatnya yang berbeda jauh dari  langit. Perbedaan langit dan bumi ini pada gilirannya juga menimbulkan keanekaan dalam ciptaan-ciptaan Allah yang lain, dari makhluk hidup seperti manusia dan binatang sampai tanaman dan buah-buahan.

Umat manusia bukan hanya beragam dalam suku dan bangsa semata. Sebagai konsekuensi dari hal itu, mereka memiliki kekayaan budaya dengan karakternya sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki kearifan budaya sehingga perlu dikembangkan dan disumbangkan untuk penciptaan kehidupan yang mencerminkan kemanusiaan universal yang fitri.

Agama pun menjadi tidak tunggal. Manusia tidak berhak untuk menjadikan kehidupan serba tunggal. Bahkan kebenaran ada karena adanya kesesatan. Keimanan berkembang karena adanya kekufuran. Tugas umat manusia bukan untuk mengklaim kebenaran, tapi menjelaskan kebenaran dengan penuh hikmah dan kebijakan. Sebab petunjuk bukan milik manusia, namun milik Allah yang diturunkan kepada manusia melalui cara-cara yang sesuai dengan fitrah manusia. Dalam rangka itu, Allah mengingatkan dalam surat Yunus: 99 kepada Nabi Muhammad saw. agar tidak terperangkap ke dalam kebencian terhadap sesama manusia hanya karena tidak seluruh umat manusia menjadi umat yang beriman. Kebencian tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Persoalan hanya dapat diselesaikan melalui cara-cara damai dan manusiawi.

***

Berdasarkan kenyataan kehidupan dan ajaran Islam tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengingkaran terhadap pluralitas sama dengan mengingkari kehidupan. Jika kita mau jujur, terjebaknya Indonesia dalam krisis multi-dimensional beberapa tahun terakhir dan masih terus berlangsung sampai sekarang, salah satu faktor utamanya karena rezim orde baru mengingkari pluralitas yang dimiliki bangsa. Semasa berkuasa, rezim yang represif ini mengingkari kemajemukan dengan pola penyeragaman dalam berbagai dimensi kehidupan. Asas tunggal diberlakukan sehingga tidak ada ruang lagi bagi nilai-nilai budaya lain untuk bisa hidup. Ketika masyarakat berbicara dan berdiskusi tentang SARA selalu dicurigai, dimusuhi, dan dikerangkeng dalam penjara yang disebut Stabilitas Nasional. Memperbincangkan SARA identik dengan pembuat onar atau bahkan sebagai makar yang dapat mengganggu stabilitas yang akan mendapat ganjaran perlakuan keras yang sangat tidak manusiawi.

Kondisi itu membuat masyarakat kehilangan identitas diri, dan kehilangan arti kehidupan yang sebenarnya. Kemajuan, dan kesejahteraan hidup hanya dimiliki segelintir elit yang berkuasa dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan. Sedang masyarakat luas hidup dalam keterbelakangan dan pemiskinan serta didera kekecewaan, penderitaan, dan keresahan yang tanpa ujung. Masyarakat terseret dalam kehidupan yang serba tak menentu dan berada dalam suasana yang depresif.

Pada gilirannya hal itu telah mengantarkan masyarakat ke dalam kehidupan yang sangat rentan konflik dan mudah tersulut untuk berbuat kekerasan. Kekerasan massal merebak di berbagai daerah seakan-akan berlomba, tidak mau kalah dengan kekerasan yang dilakukan negara. Hasil dari semua itu adalah terjadinya mega-persoalan bangsa yang terus dibayang-bayangi konflik etnis, konflik antar kampung, dan sebagainya yang tak kunjung selesai sampai era reformasi (yang belum tentu bersifat reformatif) tiba.

***

Pengembalian Indonesia kepada kehidupan yang damai (yang akan berdampak kepada terciptanya kesejahteraan dan ketenangan hidup) meniscayakan seluruh elemen bangsa untuk membangun kembali tujuan hidup yang selama ini mereka anut. Paham kesatuan yang memandang kehidupan sebagai sesuatu yang serba tunggal harus diubah menjadi paham pluralisme dan keberagaman budaya (multikulturalisme).

Melalui pandangan hidup ini, kekayaan budaya dan perbedaan agama yang dimiliki bangsa perlu diletakkan dalam pandangan peduli dan kritis. Bangsa ini perlu mengembangkan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan. Perbedaan perlu disikapi secara positif sebagai khazanah budaya yang akan mengantarkan bangsa kepada kekayaan solusi dalam menghadapi persoalan bangsa dan kemanusiaan yang kian kompleks.

Untuk mengembangkan itu, umat Islam tidak perlu ragu. Sebab selain merupakan kenyataan kehidupan, keragaman dan penghargaan terhadap keragaman adalah sesuai dan merupakan salah satu inti nilai dan ajaran agama. Mudah-mudahan Allah masih memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua. Amien.[]

Abd A`la. Konsultan Pengembangan Pendidikan Perdamaian kerjasama Consortium for Justice dan Peace (KKK) dan Common Ground Indonesia (CGI); alumnus S3 Pascasarjana IAIN Jakarta.

 

Liputan


Perpustakaan Masjid Raya Pondok Indah: Manajemen Plus Plus

Semangat, kerjasama, dan fasilitas merupakan modal utama kemajuan umat menuju peradaban yang lebih baik. Setidaknya itu yang dirasakan Tamrinuddin, pengelola  perpustakaan Masjid Raya Pondok Indah, ketika menjelaskan keberhasilan perpustakaan itu. Dua modal itulah yang mesti dimiliki setiap pengelola masjid.

Ruangan berukuran 9x 6 meter dan tinggi hampir 2,5 meter itu cukup sempit untuk sebuah perpustakaan ideal. Sekitar 20 buah rak buku mengisi ruangan yang berada di samping kanan bagian belakang Masjid Raya Pondok Indah itu. Meski cuma dalam hitungan ratusan judul buku, perpustakaan ini memang layak diacungi jempol. Ia termasuk satu dari sedikit masjid yang memiliki perpustakaan memadai, di antara ribuan masjid di Jakarta. Tak heran jika pada tahun 1997 ia memperoleh predikat Teladan I Perpustakaan Masjid versi Perpustakaan Nasional RI.

Saat ini, perpustakaan yang didirikan tahun 1994, dua tahun setelah berdirinya masjid, itu tidak saja mengelola buku-buku bacaan. Berkordinasi dengan pengurus dan remaja masjid, pihak pengelola mengadakan pengajian-pengajian, Senin dan Rabu al-Hilal, Kamis al-Ummahat dan al-Urwatul Wutsqa, Sabtu pengajian Nurul Huda. Ada juga pendidikan sempoa dengan penambahan nilai-nilai islami untuk anak-anak.

Keberhasilan ini tak lepas dari sistem manajerial profesional yang diterapkan. Katalogisasi, komputerisasi, profesionalisasi pegawai perpustakaan, dan tentu saja anggaran biaya yang memadai, menjadi prasyarat yang mesti dipenuhi. Perpustakaan Masjid Raya Pondok Indah itu, menurut Tamrin, bahkan menganggarkan dana Rp. 400.000 ,- per tiga bulan untuk menambah koleksi buku-buku baru, sesuai segmen penggunanya yang rata-rata mahasiswa dan pelajar.

Meski begitu, seperti halnya perpustakaan lainnya, Tamrin mengakui banyak kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan itu. Di samping tempat yang kurang strategis, menurunnya jumlah pengunjung juga menjadi catatan tersendiri. Ketika penulis datang ke perpustakaan tersebut, hanya tiga orang pengunjung yang ada di situ. Itupun dua di antaranya adalah pengurus masjid. “Maklum, musim liburan. Karena kebanyakan pengguna perpustakaan ini adalah pelajar dan mahasiswa, terutama dari IAIN,” aku Tamrin.

Berkaca dari Masjid Raya Pondok Indah, sudah sepatutnya keberadaan perpustakaan di masjid menjadi salah satu agenda yang diperjuangkan seluruh masjid di Indonesia. Sudah saatnya “membaca” menjadi bagian penting dari kegiatan pemberdayaan umat, sesuai ayat pertama al-Qur’an, iqra’.

Sudarno

tentang LS-ADI  I  redaksi  I  dialog  I  jaringan  I  depan  I  


copyright@LS-ADIOnline 2002
Jl. Semanggi II No. 44 Gang Kubur Cempaka Putih Ciputat 15412
Telp/ Faks. 021-9227463
untuk informasi lebih lanjut hubungi
ls-adi@plasa.com