Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia 

Edisi 1

Edisi 2

Edisi 3

Edisi 4

Edisi 5

Edisi 6

Edisi 7

Edisi 8

Edisi 9

Edisi 10

Edisi 11

Edisi 12

Edisi 13

Edisi 14

Edisi 15

Edisi 16

Edisi 17

Edisi 18

Edisi 19

Edisi 20

  Editorial

Remaja Masjid

Pada masa nabi, masjid adalah pusat peradaban Islam. Dimana sebagai penggiat utama adalah para pemuda yang populer kita menyebutnya remaja.

Kita sering mendengar ungkapan masa depan ada di tangan mereka para pemuda. Karena tidak bisa kita bayangkan, jika hari ini kita tidak punya para pemuda, maka masa depan hanyalah mimpi-mimpi kosong belaka.

Ditengah kondisi umat yang beragam ditambah  konflik yang berkepanjangan, remaja masjid adalah harapan masa depan dimana mereka adalah aktor yang paling dekat dengan umat.  Dimana melalui pemikiran-pemikiran segarnya  mereka dapat melihat dengan kritis persoalan yang dihadapi oleh umat. Mereka dapat mulai belajar dari persoalan yang terjadi tersebut, bagaimana menyelesaikan dan melihat secara dewasa persoalan yang terjadi, bukan semata-mata karena agama, ras, suku atau kelompok tertentu.

Jika ribuan bahkan jutaan masjid yang tersebar di seluruh nusantara ini, terdapat sekelompok anak muda yang menggunakan dengan maksimal ide-ide kritis dan segarnya, maka rasa-rasanya kita tidak perlu khawatir dengan masa depan umat kita. 

Lisa N. Humaidah

 

Kajian


Remaja Masjid; Aktor Pendidikan Pluralis

Hidup toleran antar sesama umat manusia —lebih khusus antar pemeluk agama—yang kemudian berimplikasi pada terbentuknya komunitas masyarakat yang pro- perdamaian merupakan nilai luhung yang dicita-citakan semua umat manusia beragama. Di Indonesia, yang beragam dengan suku, agama, etnik, dan ras, hidup toleran untuk perdamaian tersebut cukup relevan menjadi agenda bersama bangsa Indonesia.

Untuk sampai kepada implementasi penghargaan terhadap keragaman, tentu saja tidak bisa tiba-tiba diajarkan sehari. Ia membutuhkan pendidikan dan keteladanan yang terus-menerus. Implementasinya bersandar pada pembiasaan semenjak dini. Dalam konteks pendidikan semenjak dini toleransi antar umat manusia beragama, remaja masjid (kaum muda agama) sebagai aktor pendidikan agama pluralis untuk perdamaian sangat berperan.

***

Ketidaksukaan terhadap agama dan kelompok lain di samping karena pengalaman beban sejarah keagamaan masa lalu (kaum tua) yang tidak dewasa, picik dan penuh kecurigaan juga karena faktor pendidikan semenjak dini. Di masjid-masjid atau gereja-gereja atau simbol-simbol ibadah keagamaan lain serta institusi pendidikan keagamaan masih terlihat pengajaran jalan keselamatan diakui hanya dimiliki oleh kelompok dan agamanya sendiri. Agama lain dianggap tidak memiliki jalan  keselamatan.

Hal ini menjadi bermasalah dalam praktek sosialnya. Karena secara psikologis anak didik akan memiliki penolakan  yang cukup kuat terhadap kelompok atau agama lain. Akibat lebih lanjut sudah pasti bisa diprediksi: terjadi saling klaim, curiga dan diskriminasi yang terpatri dalam benak dan sikap masing-masing. Dengan kata lain, masing-masing pemeluk agama pada akhirnya berpikir bahwa hanya keberadaan agamanya yang berhak hidup. Selanjutnya, toleransi sulit direalisasikan. Konflik SARA menjadi fenomena sejarah umat manusia paling ironis, tragis yang sangat mengerikan jika terjadi pada komunitas beragama. Padahal agama mengajarkan perdamaian untuk alam semesta.

***

Dalam konteks pendidikan, dari ilustrasi di atas, nampak jelas terlihat bahwa metodologi pendidikan agama belum menyentuh sisi pluralisme (paham keberagaman)  untuk perdamaian yang menjadi inti ajaran agama. Proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah dan institusi-institusi keagamaan seperti; di masjid, pesantren, gereja, paroki,  sinagog belum menjadi wahana pengembangan pendidikan agama pluralis.

Pendidikan agama pluralis bukan berarti mencampur-adukkan ajaran agama. Pendidikan agama pluralis hanyalah sebuah metode pendidikan yang menerapkan saling pemahaman antar komunitas beragama yang heterogen (bermacam-macam, red.) kemudian dilanjutkan saling menghargai dan bekerja sama. Komunitas beragama yang heterogen inilah yang disebut sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Al-Qur’an menyatakan; Adalah urusan Tuhan untuk menjadikan orang beriman ataukah tidak. Sebab beriman ataukah tidak kepada keyakinan suatu kelompok adalah kehendak Tuhan. Bukan keinginan manusia. Urusan manusia adalah berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaqwaan di muka bumi. Urusan manusia adalah menciptakan kemaslahatan untuk perdamaian di muka bumi; di tengah kelompok kecil manusia yang heterogen dan multikultural (kebudayaan yang beragam, red).

Aktor pendidikan agama pluralis yang diharapkan paling bisa berperan adalah Remaja Masjid (Irma). Di samping mereka sebagai lembaga yang eksis di masjid, juga merupakan generasi penerus yang bisa melangsungkan konsep dan praktek keagamaan pluralis tanpa sekat dan campur tangan kepentingan perangkat keagamaan yang sempit seperti; curiga dan diskriminatif terhadap keberadaan dan hak agama lain.

Ada beberapa persyaratan bagi Irma untuk menjadi aktor pendidikan agama pluralis. Pertama, menjaga terus tetap konsisten terhadap paham pluralisme. Kedua, menyadari sepenuh hati bahwa perdamaian hanya bisa dicapai dengan mengakui keberagaman sebagai sesuatu yang niscaya. Ketiga, menyusun strategi dan jaringan kerja yang luas. 

Tantangan perdamaian dalam setiap sejarah manusia beragama senantiasa ada. Jika dalam agama (Islam) ada sisi berkah dan sisi setani, maka dalam konteks hubungan antar umat beragama kira-kira maksudnya adalah untuk yang pertama mengindikasikan nilai toleransi menghargai pluralisme; merajut keragaman untuk perdamaian semesta kemanusiaan. Sedangkan yang kedua mengilustrasikan nilai intoleransi menebar pertikaian; mempropagandakan permusuhan. Pertentangan  tersebut menunjukkan bahwa perdamaian akan selalu dihalangi oleh pertikaian. Niat dan strategi perdamaian akan senantiasa diprotes oleh permusuhan.

Secara praktek, berdasarkan penjelasan di atas dan juga betapa buruknya belajar-mengajar keagamaan kaum muda agama oleh kaum tua, pelaksanaan strategi pendidikan agama pluralis oleh Irma penting mempertimbangkan model gerakan sosial yang pernah dipraktekkan di dunia maju (Eropa dan Amerika) pada abad XX, agar bisa dilakukan secara sistematis dan terorganisir. Mereka mengembangkan sistem analisis dan gerakan sosial. Sistem analisis merupakan gerakan untuk mendiskusikan materi-materi realitas sosial-keagamaan secara kritis. Sedangkan gerakan sosial merupakan lahan untuk menginformasikan kenyataan sosial pada masyarakat.

Secara lebih konkret, mungkin Irma perlu menjadikan dirinya sebagai lingkar belajar komunitas yang tajam dalam kepekaan menganalisis dan tangkas dalam merajutnya menjadi sistem advokasi masyarakat. Dengan kata lain, sebagai aktor pendidikan agama pluralis, Irma perlu memposisikan dirinya menjadi penggerak dan pelopor sikap-sikap keberagamaan yang toleran: menghargai keragaman agama dan penafsiran keagamaan. Di samping itu, secara konseptual, Irma diharapkan tidak lagi segan bergumul dengan wacana-wacana dan isu-isu keagamaan yang beragam.

Pada kelanjutannya, mereka diharapkan tangkas dalam menyikapi setiap fenomena keagamaan yang merugikan dimensi kemanusiaan. Dengan demikian, generasi mendatang yang akan mengisi ruang keagamaan sudah tiada bermasalah untuk bekerjasama merajut perdamaian Indonesia bahkan dunia semesta kemanusiaan. Wallahu a’lam.[]

Piet H Khaidir. Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM); Peneliti pada Yayasan Voice Center Indonesia dan Official Board Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah

 

Khazanah


Masjid Tua di Jakarta

Jakarta adalah kota legenda. Banyak peninggalan sejarah yang masih berdiri tegak di kota ini meninggalkan kisah  sejarah dan peradaban manusia. Awal sejarahnya Jakarta adalah pusat pertemuan kebudayaan yang beragam. Pelabuhan Batavia selain dikenal sebagai pusat perdagangan juga tempat bertemunya suku, adat, bahasa yang saling mengisi  satu sama lain melahirkan kebudayaan yang baru. Seperti halnya bahasa betawi merupakan  campuran dari  bahasa melayu dan kebudayaan Bali.

Jakarta juga dikenal sebagai kota yang sangat kental nuansa relegius Islamnya. Jika kita  menelusuri daerah Jakarta Barat, akan banyak kita temui masjid-masjid kuno yang sangat kental unsur percampuran budayanya. Sebut saja; masjid Langgar Tinggi, masjid Pekojan, masjid Kebon Jeruk dan masjid Bandengan. Keempat masjid ini mengandung nilai seni dan kebudayaan yang sangat tinggi. Masjid Kebon Jeruk misalnya; masjid yang terletak di Jalan Hayam Wuruk ini didirikan pada tahun 1786 dan merupakan masjid pertama didirikan bagi para Cina peranakan di daerah Glodok. Masjidnya dibangun di atas tanah milik Kapten Cina yang telah masuk Islam. Dibagian belakang masjid terdapat sebuah makam Islam yang pada batu nisannya terdapat tulisan Cina yaitu Fatimah Hwu serta angka Arab yang menyebutkan tahun 1792 serta terdapat pula ornamen-ornamen seperti kepala naga. Fatimah Hwu adalah istri Kapten pemilik tanah yang telah masuk Islam.

Masjid- masjid tersebut selain berperan mendakwahkan nilai-nilai ajaran Islam, juga sebagai pusat menyusun strategi melawan penjajah kolonial pada saat itu. Masjid juga berfungsi sebagai simbol  kekayaan kebudayaan nusantara yang kita miliki. Masjid Pekojan misalnya, masjid yang kini bernama "Annawier" ini  terletak di jalan Pekojan No. 79 Tambora Jakarta Barat, dibangun pada tahun 1740 oleh kontraktor Cina untuk orang-orang Moor di Batavia. Arsiteknya gaya Arab dan Eropa. Dalam sejarahnya, masjid ini berperan cukup besar dalam penyebaran agama Islam serta sebagai induk masjid-masjid di sekitarnya dengan para jemaahnya yang tidak kurang dari 2.000 orang. Kekayaan nusantara kita terlihat pada mimbar antik yang merupakan hadiah dari salah seorang Sultan Pontianak, Kalimantan Barat. Bentuk serta ukuran mimbar menunjukkan ukiran yang bermotif pada abad ke-18 yang sampai sekarang masih tetap terpelihara. Walaupun pada bagian lain masjid ini sudah banyak mengalami perubahan, namun demikian masih nampak bagian-bagian aslinya.

Tentu masih banyak masjid tua di Jakarta yang akan tetap menjadi legenda bagi anak cucu kita kelak. Selain bangga memiliki kebudayaan yang sangat tinggi ini, tugas kita adalah tetap memelihara unsur tertinggi dari kebudayaan tersebut dengan menciptakan kreasi baru yang semakin memperkaya unsur budaya dan peradaban kita. Anna Allah A’lam

Lisa N. Humaidah. Disarikan dari Pesantren online dengan beberapa tambahan.

tentang LS-ADI  I  redaksi  I  dialog  I  jaringan  I  depan  I  


copyright@LS-ADIOnline 2002
Jl. Semanggi II No. 44 Gang Kubur Cempaka Putih Ciputat 15412
Telp/ Faks. 021-9227463
untuk informasi lebih lanjut hubungi
ls-adi@plasa.com